Jumat, 21 Februari 2014

Gadis kecil yang masih berusia 10 tahun itu bernama meida, dia tinggal bersama kedua orangtua dan kedua kakaknya di sebuah perumahan di tepian kota Cilacap.
Setiap pagi sebelum berangkat sekolah meida mandi di kamar mandinya yang besar, tak jarang dia bermain air di setiap waktu mandinya. Air yang deras dari keran itu dinyalakannya untuk sekedar memenuhi bak yang sebelumnya sudah kosong karena airnya telah dicampurnya dengan sabun. Melihat perilaku meida, Ayah, Ibu serta kakak-kakaknya kerap kali mengingatkan untuk tidak membuang-buang air. Namun, meida tetap membandel dan tidak menuruti apa kata orangtuanya dan tetap melakukan pemborosan air.
Suatu hari, saat meida terbangun dan menuju kamar mandi, dinyalakannya keran yang mengalirkan air cukup sedikit. meida mengeluh dan mandi seadanya. Wajahnya cemberut karena tak bisa bermain air seperti biasanya. Dia mengeluhkan keadaan ini pada orangtuanya, orangtuanya membenarkan dan mengatakan bahwa daerah tempat mereka tinggal termasuk daerah yang terkena dampak krisis air bersih, tentu saja Meida belum mengerti keadaan semacam ini.
Saat Meida berjalan menuju sekolah, dia bertemu dengan seorang anak laki-laki bertubuh kurus kering dan lusuh. Meida terlihat prihatin dengan anak yang sebaya dengannya itu, dihampirinya anak laki-laki yang sedang mengorek-ngorek tempat makan itu.
“Hei, kamu ngapain ngorek-ngorek tempat sampah itu?”
“Aku kelaparan, aku belum makan hari ini..”
“Memang Mama kamu nggak masak ya? Oya, nama aku Meida, kamu siapa?”
“Namaku Wahyu.. Ibu aku lagi sakit-sakitan di rumah… Makanya aku harus cari makan sendiri dengan memungut sampah..”
“Loh memang Ibu kamu sakit apa?”
“Aku nggak tau apa nama sakitnya, tapi kata mantri yang pernah datang ke rumah, katanya Ibu aku sakit karena banyak minum air yang kotor..”
“Kenapa Ibu kamu minum air yang kotor? Memang nggak ada air yang bersih, Yu?”
“Di daerah aku air bersih susah dicarinya.. Kalaupun ada, harganya juga mahal.. Ibu aku nggak mampu kalau harus bayar mahal apalagi tempatnya jauh, jadi mau nggak mau kami minum air tanah seadanya…”
Meida melamun, membayangkan keadaan Wahyu dan Ibunya yang susah mendapatkan air yang cukup bersih untuk sekedar minum. Dia mengingat kebiasaannya setiap hari, membuang-buang air dan memakainya secara berlebihan.. Teringat olehnya kejadian tadi pagi saat air keran mengalir kecil dan dia mandi seadanya.. Tak terbayangkan jika air di rumahnya akan habis dan dia akan mengalami nasib yang sama dengan Wahyu..
“Meida, kok kamu malah melamun?”
“Enggak, nggak ada apa-apa kok…”
“Oh, ya sudah aku pergi dulu ya, aku masih harus cari botol-botol yang banyak untuk dijual..”
“Oh, iya aku juga mau pergi sekolah dulu nih… Ini ada sedikit uang dan makanan dan air mineral buat kamu, Yu.. Diambil ya..”
“Makasi ya Meida, kamu baik semoga kebaikan kamu dibalas ya… Senang bisa kenal kamu.. Daaah Meida..”
“Iya, sama-sama Yu… Daaahh..”
Sepanjang jalan menuju sekolahnya yang sudah tak jauh lagi, Meida tersenyum dan berjanji dia tak akan membuang-buang air lagi dan akan berubah menjadi lebih baik lagi..