Gadis kecil yang masih berusia 10 tahun itu bernama meida, dia tinggal
bersama kedua orangtua dan kedua kakaknya di sebuah perumahan di tepian
kota Cilacap.
Setiap pagi sebelum berangkat sekolah meida mandi di kamar mandinya
yang besar, tak jarang dia bermain air di setiap waktu mandinya. Air
yang deras dari keran itu dinyalakannya untuk sekedar memenuhi bak yang
sebelumnya sudah kosong karena airnya telah dicampurnya dengan sabun.
Melihat perilaku meida, Ayah, Ibu serta kakak-kakaknya kerap kali
mengingatkan untuk tidak membuang-buang air. Namun, meida tetap
membandel dan tidak menuruti apa kata orangtuanya dan tetap melakukan
pemborosan air.
Suatu hari, saat meida terbangun dan menuju kamar mandi,
dinyalakannya keran yang mengalirkan air cukup sedikit. meida mengeluh
dan mandi seadanya. Wajahnya cemberut karena tak bisa bermain air
seperti biasanya. Dia mengeluhkan keadaan ini pada orangtuanya,
orangtuanya membenarkan dan mengatakan bahwa daerah tempat mereka
tinggal termasuk daerah yang terkena dampak krisis air bersih, tentu
saja Meida belum mengerti keadaan semacam ini.
Saat Meida berjalan menuju sekolah, dia bertemu dengan seorang anak
laki-laki bertubuh kurus kering dan lusuh. Meida terlihat prihatin
dengan anak yang sebaya dengannya itu, dihampirinya anak laki-laki yang
sedang mengorek-ngorek tempat makan itu.
“Hei, kamu ngapain ngorek-ngorek tempat sampah itu?”
“Aku kelaparan, aku belum makan hari ini..”
“Memang Mama kamu nggak masak ya? Oya, nama aku Meida, kamu siapa?”
“Namaku Wahyu.. Ibu aku lagi sakit-sakitan di rumah… Makanya aku harus cari makan sendiri dengan memungut sampah..”
“Loh memang Ibu kamu sakit apa?”
“Aku nggak tau apa nama sakitnya, tapi kata mantri yang pernah datang ke
rumah, katanya Ibu aku sakit karena banyak minum air yang kotor..”
“Kenapa Ibu kamu minum air yang kotor? Memang nggak ada air yang bersih, Yu?”
“Di daerah aku air bersih susah dicarinya.. Kalaupun ada, harganya juga
mahal.. Ibu aku nggak mampu kalau harus bayar mahal apalagi tempatnya
jauh, jadi mau nggak mau kami minum air tanah seadanya…”
Meida melamun, membayangkan keadaan Wahyu dan Ibunya yang susah
mendapatkan air yang cukup bersih untuk sekedar minum. Dia mengingat
kebiasaannya setiap hari, membuang-buang air dan memakainya secara
berlebihan.. Teringat olehnya kejadian tadi pagi saat air keran mengalir
kecil dan dia mandi seadanya.. Tak terbayangkan jika air di rumahnya
akan habis dan dia akan mengalami nasib yang sama dengan Wahyu..
“Meida, kok kamu malah melamun?”
“Enggak, nggak ada apa-apa kok…”
“Oh, ya sudah aku pergi dulu ya, aku masih harus cari botol-botol yang banyak untuk dijual..”
“Oh, iya aku juga mau pergi sekolah dulu nih… Ini ada sedikit uang dan makanan dan air mineral buat kamu, Yu.. Diambil ya..”
“Makasi ya Meida, kamu baik semoga kebaikan kamu dibalas ya… Senang bisa kenal kamu.. Daaah Meida..”
“Iya, sama-sama Yu… Daaahh..”
Sepanjang jalan menuju sekolahnya yang sudah tak jauh lagi, Meida
tersenyum dan berjanji dia tak akan membuang-buang air lagi dan akan
berubah menjadi lebih baik lagi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar